Kamis, 12 Desember 2013


Likuiditas Jangka Pendek
Kesulitan likuiditas jangka pendek perekonomian nasional dewasa ini perlu segera ditangani. Hal ini untuk mencegah terjadi masalah solvabilitas yang menimbulkan krisis yang tidak diharapkan. Ancaman krisis yang dimaksud adalah bersumber dari pinjaman luar negeri perbankan dan dunia usaha serta arus balik investasi modal jangka pendek ke luar negeri. Keadaan semakin sulit karena komoditas primer telah menurunkan penerimaan ekspor. Sementara itu, kemorosotan harga Surat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan efek-efek di dalam negeri telah menurunkan aspek nilai pemiliknya, terutama lembaga keuangan. Di lain pihak, beban pembayaran utang luar negeri meningkat akibat dari naiknya tingkat suku bunga pinjaman di pasar dunia dan erosi  nilai tukar rupiah.
Untuk mengatasi kesulitan likuiditas tersebut, pemerintah dan BI perlu segera mengundang lebih banyak penanaman modal asing, mengupayakan pinjaman baru untuk mengupayakan cadangannya termausk pinjaman siaga dan fasilitas swap valuta asing dari bank-bank sentral mitra dagang Indonesia. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya resource transfer yang negatif. Otoritas Jasa Keuangan dan BI perlu meningkatkan pengawasan atas lembaga keuangan serta monitoring pinjaman luar negeri dunia usaha. Pemerintah dan BI perlu melakukan reformasi secara struktural, korprotasi BUMN dan menguatkan lembaga sosial. Tujuan reformasi tersebut adalah untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi perekonomian agar dalam waktu jangka menengah dan menambah devisa dan menciptakan lapangan kerja.
             Sejak beberapa tahun terakhir, kecuali tahun 2008 neraca pembayaran Indonesia terus-menerus mengalami surplus pada neraca berjalan dan neraca modal. Adanya surplus tersebut memungkinkan BI memupuk cadangan luar negerinya dan mengendalikan laju inflasi.
Selain penanaman modal, perlu adanya modal jangka pendek. Modal asing yang diinvestasikan dalam bentuk surat-surat berharga terjadi karena dirangsang oleh tingginya perbedaan antara suku bunga Indonesia dan luar negeri.Kreditor maupun investor asing percaya bahwa Indonesia dapat melunasi hutang luar negerinya karena ekonominya tumbuh baik rata-rata 5-6% pertahun. Tapi tentu saja itu masih jauh dari yang diharapkan. Sudah selayaknya negara kita membenahi diri, bertekad bulat untuk membayar hutang luar negeri demi kelangsungan hidup generasi kita di masa depan. Adanya koorporasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia itu yang diharapkan. BI bertugas mengendalikan tingkat laju inflasi dan pemerintah memberikan kebijkan-kebijakan positif yang mendorong ke arah kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar